Kamis, 09 November 2017

Kita Pelopor Anti Hoax

Sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat di era globalisasi sekarang ini, begitu mudah kita mendapatkan informasi secepat kilat dan semudah pula membalikkan telapak tangan. Namun dibalik kemudahan mendapatkan informasi tidak sebanding lurus dengan keinginan kita untuk mendapatkan informasi yang benar dan tepat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada masa kini tidak mampu memberikan dampak positif namun bisa memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Setiap saat setiap waktu kita tidak akan terlepas akan perangkat smartphone yang kita miliki, dalam perangkat genggam kita terbenam berbagai macam aplikasi media sosial yang sangat familier. Media sosial menjadi media untuk menyalurkan informasi yang bernada hoax, apabila kita kurang memahami informasi yang tengah kita baca. Bergulirnya informasi sangat cepat mudah melalui beberapa media sosial yang kian marak semacam facebook, twitter, whatsapp. Hoax merupakan suatu usaha untuk menipu atau mengakali para pemerhati dan penikmat media termasuk didalamnya pembaca untuk mempercayai sesuatu informasi. Seperti kita sadari dan rasakan selama ini, masyarakat dan pemerintahan dibuat kalang kabut dengan fenomena penyebaran informasi yang berupa berita finah, yang bernada menghasut, dan tentunya hanya hoax belaka yang semakin hari kian marak. Kita sadari hadirnya perangkat genggam memudahkan kita berkomunikasi dan bertukar data. Para muda kita kenal penuh rasa ingin tahu yang lebih, nah ini sebagai pangsa pasar yang empuk untuk menyelinapkan informasi yang kurang bertanggungjawab. Seperti kita ketahui bahwa pengguna media sosial mayoritas adalah anak usia sekolah atau kita bisa menyebut para muda. Kita sebagai pendidik tidak ingin apa yang menjadi naungan kita dalam hal ini para anak usia sekolah mendapatkan informasi dengan nada hoax, untuk itu perlunya menggelorakan kepeloporan kita dalam suatu gerakan anti hoax, sebagai sumbangsih kita sebagai pendidk untuk menangkal dan menanggulangi bahaya informasi yang bernada hoax. Sebagai langkah cerdas menguatkan dan merapatkan barisan untuk membentengi anak didk kita supaya memiliki pola pikir yang positif dengan informasi yang positif pula. Kita nyatakan perang akan informasi hoax, untuk itu perlu bersinergi dalam peningkatan literasi bagi anak didik kita dalam memahami isi informasi. Informasi yang tersebar yang masuk dalam informasi tidak benar mengistilahkan sebagai hoax. Informasi bernada hoax menjadi ancaman serius bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara kasat mata dan secara tidak langsung dengan perantara informasi bernada hoax bisa menimbulkan kegaduhan dan adu domba antar komponen masyarakat. Kita sebagai pemerhati media tentu akan semakin arif dan bijaksana dalam mengkonsumsi informasi yang kita peroleh, perlunya kewaspadaan dan ekstra hati-hati dalam mengkonsumsi informasi. Sebuah langkah bijak sebelum kita membaca tentu kita akan melihat dengan seksama sebuah judul dari informasi yang kita dapat. Dengan sebuah judul tentu kita bisa menerka apa isi dari sebuah informasi. Dengan berbekal pengetahuan dan seringnya kita membaca tentu kita akan mampu membedakan informasi yang kita peroleh dan layak kita konsumsi. Perlu di ingat bahwa judul yang bernada provokatif pasti akan dimunculkan oleh sang penulis dan sang pengunggah hoax. Sebuah judul dan gaya penyampaian informasi yang provokatif akan dipilih sebagai upaya untuk membentuk rasa ketertarikan pembaca. Perlunya kita belajar dan menganalisis judul informasi yang bernada provokatif. Uraian informasi dikemas menarik sehingga para pembaca makin penasaran untuk membaca dengan tuntas dan lengkap. Dengan ketertarikan untuk membaca diharapkan kita mempercayai informasi yang telah kita baca. Sebagai pemerhati media yang bijak kita tentu akan semakin paham mengenai informasi yang provokatif, untuk itu seyogyanya kita tidak langsung mempercayai sebuah informasi namun kita mengkrosceknya di berbagai sumber yang akurat. Dengan mengkroscek akun pengunggah untuk menggali informasi dan pembandingan informasi. Kita sebagai pembaca diharapkan mampu untuk bisa membedakan informasi tersebut benar atau tidak, apakah informasi yang kita dapat termasuk kategori fakta atau opini yang sedang berkembang di masyarakat. Informasi yang disebarkan dan beredar bisa saja berupa foto, untuk itu kita berupaya mencermati korelasi antara foto dan caption foto yang kita peroleh. Kejanggalan antara foto dan caption memungkinkan untuk memberikan informasi yang tidak tepat pada pembaca jadi kita jangan langsung percaya terhadap informasi tersebut, sebaiknya kita harus mencermati foto tersebut dengan bijaksana. Untuk itulah kita bisa bergabung dengan forum, group, komunitas diskusi anti hoax untuk menambah wawasan seputar hoax sehingga kita bisa memahami seputar hoax dan cara menyaring dan mengklarifikasi informasi yang kita dapatkan. Dampak hoax pasti akan sangat tidak baik bagi kita semua, terlebih seorang siswa sebagai generasi muda penerus bangsa akan teracuni otak dengan hoax. Hoax sangat berdampak pada perubahan pola pikir para pembaca yang tidak memiliki filter diri hingga berdampak pada sikap dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Bisa saja sikap para pembaca akan berubah sesuai dengan apa yang ditulis dalam hoax yang telah dibacanya. Dengan adanya informasi yang tidak benar tentu akan menimbulkan dan memicu adanya keresahan, kebingungan, ketidakpercayaan dan bisa menimbulkan perpecahan. Sebagai bagian dari informasi yang tidak bertanggungajawab tentu akan merugikan dan menurunkan reputasi dari pihak yang telah dirugikan dengan adanya hoax. Hal yang akan diperoleh dari penyebaran hoax tentu akan sangat menguntungkan pihak tertentu yang ikut andil dalam membuat dan menyebarkan hoax. Para pemerhati media termasuk pembaca akan semakin tidak percaya pada informasi yang telah dibacanya. Dengan fenomena hoax yang telah merasuk dalam informasi sangat privasi yang kian cepat tentu kita sebagai pendidik memiliki cara untuk disampaikan kepada masyarakat baik itu siswa, keluarga, kolega. Di madrasah kami baru merintis literasi madrasah dan akan diterbitkan majalah madrasah sebagai media kreatifitas siswa, diharapkan beragam fenomena hoax bisa terfilter melalui majalah madrasah kami dan melalui media majalah dinding dengan beragam informasi yan mendidik. Tentu kita sebagai pendidik keseharian kita berada bersama para siswa, itulah lkesempatan kita untuk membrrikan sosialisasi mengenai hoax. Menangkal penyebaran Hoax dengan pendidikan pada siswa, sebagai bidang garapan pendidik yang berada di madrasah tentu memiliki kesempatan komunikasi yang tepat, ada beragam edukasi yang bisa disampaikan kepada peserta didik kita yang berada di lingkungan sekolah. Untuk meminimalisasi dampak dan pengaruh hoax di lingkungan sekolah dan madrasah upaya pendidik bisa melakukan langkah diantaranya: Berhubung saya guru Bimbinan Konseling di madrasah di setiap kesempatan saya senantisas memberikan layanan informasi kepada para siswa mengenai hoax dan dampaknya serta bagaimana solusinya. Memberikan layanan Bimbingan Kelompok pada siswa dengan materi Hoax beserta dampak dan solusinya. Memberikan penguatan kepada siswa agar berfikir logis dalam membaca dan memahami informasi. Kita sebagai pendidik memberikan penguatan pada siswa untuk lebih fokus terhadap pelajaran madrasah. Para wali kelas yang tergabun dalam paguyupan kelas memberikan edukasi kepada wali murid untuk menyamakan persepsi tentang siswa dan informasi hal ini sebagi bagian komunitas anti hoax di lingkungan madrasah. Dengan komunitas ini sebagai media sharing mengenai informasi menumbuhkan jiwa positif thinking, sportif, sehingga siswa tidak mudah dipengaruhi hoax. Membuat slogan atau jargon anti hoax di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan untuk mempertebal jiwa siswa terhadap hoax. Menumbuhkan literasi madrasah yang sudah di launching beberapa waktu yang lalu sebagai penguatan budaya membaca siswa dengan wawasan yang luas. Menempelkan poster yang mudah di jangkau di lingkungan madrasah termasuk di Majalah Dinding, Papan Pengumuman, Kantin, Ruang Guru dan tempat yang mudah di jangkau warga madrasah agar selalu ingat dan waspada terhadap hoax. Keluarga sebagai bagian dari pendidikan tentu tidak terlepas dari pola asuh kita dalam mendidik anak. Cara mengedukasi dan memberikan pengaruh positif dalam mengatasi pengaruh hoax pada lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan berbagai macam cara: Mengakrapkan anggota keluarga untuk senantiasa berkomunikasi secara intens sehinga peran anggota keluarga bisa berfungsi dengan maksimal. Memberikan edukasi pada anggota keluarga secara rutin diwaktu senggang, seperti pada waktu santai keluarga, dengan memberi informasi mengidentifikasi hoax. Membentuk komunitas di lingkungan keluarga dengan tidak membagikan informasi yang meragukan. Waspada hoax dengan menempelkan poster di lingkungan tempat tinggal kita Rekan dan sahabat kita akan mewarnai hari hari kita dalam bercengkrama dan bersenda gurau, beberapa aksi yang dapat kita lakukan untuk mengatasi pengaruh hoax terhadap teman atau kolega diantaranya: Memberikan edukasi tentang hoax, memberikan contoh nyata dan logis diterima akal pikiran kita dengan membaca dan memahami isi informasi. Membentuk komunitas anti hoax, sebagai media sharing mengenai informasi. Membangun kebersamaan, menghargai dan memahami karakter teman yang akan diajak komunikasi, untuk mempermudah dalam mengedukasi teman dan kolega. Share pengalaman pribadi tentang tindakan yang pernah dilakukan ketika mendapati informasi hoax, beberapa minggu saya mendapat informasi dari rekan dan group melalui media sosial WhaatApp yang berisi tentang Minuman serbuk memiliki kandungan berbahaya, menyebabkan batuk dan pengerasan otak dan sebagainya. Barangkali kita pernah juga menerima dan membaca informasi tentang itu, semoga kita tidak termasuk orang yang share informasi tersebut, kalau bicara mengenai penyebabkan batuk dan kandungan berbahaya tentu bukan terletak pada serbuk minumannya itu namnun pasti terletak pada zat lait yang berbahaya dan akhirnya akan terjadi kematian tidak nya batuk dan pengerasan otak. Dampak buruk informasi hoax bagi produsen minuman serbuk dan pedangang minuman serbuk tentu akan berimbas seketika, penjualan jadi sepi dan ahirnya minuman serbuk kurang daya tarik dipasaran dan bahkan tidak laku dan akhirnya menjadi rugi, padahal penjual minuman serbuk telah mengeluarkan modal untuk membeli dagangannya. Anak-anak pun juga sempat bertanya secara langsung pada saya mengenai informasi yang didapat siswa, dan saya pun memberikan penjelasan yang logis sehingga bahasa yang saya sampaikan dapat diterima di usia mereka, sehingga mereka semakin memahami. Selain informasi tentang minuman serbuk, saya juga menerima informasi tentang Vaksin yang menyebabkan autis bagi seseorang anak yang mendapatkan Vaksin, memang saat itu sedang digalakan pemerintah untuk Vaksin, disaat itu pula beredar informasi melalui media WhaatApp mengenai vaksin yang mengakibatkan anak semakin tidak berkembang sehingga masyarakat menjadi panik. Yang pasti informasi hoax sangat berbahaya kalau kita memfilter informasi yang masuk kejejaring sosial. Mari kita lebih bijak dalam share informasi, apakah informasi yang kita dapat layak untuk kita share ataupun tidak, sehingga segi kemanfaatannya bisa di peroleh para pembaca. Untuk itu ketika mendapat informasi, yang saya lakukan adalah: Saya berusaha mengecek sumber informasi tersebut. Mencari informasi dari berbagai sumber tentang kebenaran informasi tersebut pada institusi resmi, sehingga informasi yang kita peroleh bukan hanya merupakan isu-isu yang sengaja disebarkan untuk meresahkan masyarakat, namun informasi yang benar dan dapat dipercaya. Perangkat genggam sangat memudahkan kita berkomunikasi dan bertukar data, anak muda sebagai pangsa pasar yang empuk untuk menyelinapkan informasi yang kurang bertanggungjawab, mayoritas adalah anak usia sekolah, kita sebagai pendidik tidak ingin anak usia sekolah mendapatkan informasi hoax, untuk itu perlunya menggelorakan kepeloporan kita dalam suatu gerakan anti hoax, sebagai sumbangsih kita sebagai pendidk untuk menangkal dan menanggulangi bahaya informasi hoax dengan menguatkan dan merapatkan barisan membentengi anak didk kita supaya memiliki pola pikir yang positif dengan informasi yang positif pula. Guru sebagai pelopor anti hoax dan menumbuhkan literasi madrasah sebagai penguatan budaya membaca siswa dari sumber yang terpercayadengan wawasan yang luas. Sosialisai via Majalah Madrasah yang terbit berkala, Majalah Dinding, Papan Pengumuman, Poster di Kantin, Ruang Guru dan tempat yang mudah di jangkau warga madrasah agar selalu ingat dan waspada terhadap hoax. Hoax adalah musuh kita dan kita perang terhadap hoax, sebagai bentuk penjajahan dimasa kini untuk meracuni otak kita dengan informasi yan tidak benar dan menyesatkan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan generasi yang cerdas dan bertangungjawab. Selamat Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke 72 tahun 2017 maki kita menjadi Pelopor Anti Hoax biar masyarakat makin tenteram dan nyaman. (Oleh Eko Endri Wiyono, S.Pd, guru MTsN 2 Nganjuk)* #antihoax #marimas #pgrijateng

Kita Pelopor Anti Hoax

Sabtu, 14 Oktober 2017

MENUMBUHKAN HOBI MEMBACA DI SEKOLAH DASAR

Wow, kelihatannya asik ya punya siswa yang suka dan gemar membaca, sebagai guru, tentu kita akan bangga memiliki siswa yang hobi membaca. Hobi membaca apakah ada? Nah inilah tantangan kita untuk menelurkan hobi membaca pada anak didik kita! Pertanyaan yang muncul apakah kita peduli dan mampu menumbuhkan minat baca pada anak sebagai suatu hobi? Pertanyaan tersebut seyogyanya kita sikapi sebagi suatu keunggulan dan harus kita munculkan pada diri siswa. Dengan beragam menu kita memulai mengnguatkan untuk sebuah hobi membaca. Hobi tidak terlepas dari rasa ingin menekuni namun mencoba untuk mengeksplorasi hingga hobi tersebut tersalurkan dengan baik. Bagaimana cara membudayakan membaca suatu hobi bagi siswa? Sebagai seorang pendidik tentunya kita perlu melakukan persiapan untuk menumbuhkan minat baca pada siswa sebagai hobi. Hobi membaca merupakan suatu tabiat yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi, apalagi hobi membaca ini bagi siswa Sekolah dasar masih belum familier dikalangan anak-anak. Sebelum memunculkan hobi membaca dihadapan anak-anak diperlunya mengembangkan mental dan fisik untuk mempersiapakan diri anak-anak mengenal hobi membaca, dengan memberikan tekanan manfaat dan fungsi membaca, tokoh-tokoh sukses yang gemar membaca dan akhirnya mampu memupuk karakter siswa dengan gambaran dari tokoh idamannya yang sukses. Setelah kita mampu mendramatisir sebuah konsep hobi membaca kepada siswa kita menyiapkan suatu kondisi di lingkungan sekolah yang layak anak dengan menciptakan budaya membaca di sekolah beserta pernak-pernik dan atribut membaca yang disesuaikan dengan tokoh idaman anak-anak. Perlu dikemas nuansa yang khas anak mulai dari bahan bacaan yang kita siapkan, tokoh sentral yang akan kita kupas beserta lagu kesukaan anak-anak dimasa kini, sehingga emosi dalam hal ini perasaan senang, nyaman dan merasa enjoy dalam proses pemupukkan minat dalam hobi membaca siswa. Sangat perlu mengkondisikan suatu sekolah yang layak untuk anak, dengan menanamkan hidup bersih, teratur, disiplin, tanggung jawab, membina kerjasama, tenggang rasa, percaya diri sebagai tumpuan harapan demi kesinambungan dan menumbuhkan budaya membaca sebagai hobi Selepas anak-anak nyaman dengan kondisi sekolah, secara perlahan kita mulai ajak anak untuk melihat audio visual berupa drama atau film yang dijadikan idola para anak. Kita ajak nonton bareng bersama, setelah selesai kita ajak anak mengambil buku-buku cerita yang sesuai dengan drama yang telah dilihat tadi. Nah disaat itu kita mulai menguatkan perlunya membaca, membaca yang tepat dan benar, teknik membaca, posisi saat membaca, tempat membaca, dan apa yang dilakukan selama membaca dan setelah membaca. Suatu proses yang panjang bagi pendidik untuk menanamkan suatu hobi membaca pada siswa Sekolah Dasar. Media semakin kompetitif menjangkiti segenap penjuru dinamika kehidupan kita baik itu media audio, media audio visual maupun media online dan offline, seolah secepat kilat berbagai ide kreatif senantiasa muncul setiap saat kita berkedip, tidak perlu heran apabila dimasa kini kita sering melihat aktifitas seorang anak yang begitu terampil mengoperasionalkan perangkat Gadget dalam waktu senggangnya dengan genggaman mereka mampu memainkan Hand Phone, Komputer, Play Station, Game Online, Game Internet, media sosial yang menjamur semacam Facebook, WhatApps, Instagrams, Line, Twitter. Teknologi terbarukan dalam gadget bermunculan seakan-akan kalau tidak mengikuti akan ketinggalan jaman. Itulah anak masa kini yang lahir selepas millennium berbarengan teknologi canggih dalam genggaman, yang seolah semua aktifitas bisa terenggkuh lewat gengganan tangan. Bermula dari perangkat inilah sebuah buku cetak terasa terabaikan dikalangan anak-anak. Nah fenomena yang terjadi makin menjadi dengan penguatan orang tua yang lemah untuk mendampingi putra-putrinya dalam mengontrol beragam aktifitas anak. Menengok kebelakang dengan bergulirnya informasi instan yang bisa terpenuhi dengan seketika. Sebagai suatu hobi membaca buku termasuk didalamnya mencari informasi atau pengetahuan sebagai penguatan yang telah diserap selama mengikuti pembelajaran disekolah dan sebagai wahana rekreasi para siswa. Rekreasi dengan menjelajah kata demi kata dan gambar demi gambar dilalui dengan senang hati akan timbul suatu perasaan relaks saat membaca. Banyaknya ragam hiburan tayangan di Televisi, Video, aneka tempat hiburan semacam mall, supermarket, game station membuat anak makin terlena apalagi ditambah kurang intensnya orang tua untuk mendampingi waktu luang anak yang berakibat pada kurang greget perhatian anak-anak terhadap buku. Membaca merupakan aspek penting didalam kehidupan kita karena dengan membaca bisa mendapatkan ilmu yang ingin kita ketahui. Dunia anak-anak bisa berbeda dengan berjalannya waktu teriring kemudahan sarana dan kecukupan kita untuk memilikinya. Dunia perbukuan memang berkembang pesat, beraneka terbitan bermunculan dengan berbagai Genre yang bervariasi dan sangat menarik. Jumlah buku yang diterbitkan semakin bertambah namun minat baca masyarakat masih sangat rendah, bahkan membaca tidak terlalu populer di kalangan masyarakat. Kita patut bersyukur kepada pendahulu kita, Bangsa Indonesia memiliki Undang Undang dasar 1945 yang didalam pembukaannya telah tulis ”dengan mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai bukti pondasi untuk masyarakat dalam memerangi ketertinggilan dan meningkatkan derajat dan martabat dengan mencerdaskan kehidupan bangsa oleh para pendiri negara ini untuk meningkatkan sumber daya manusia telah digulirkan serta dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 32 ayat 1 yang berbunyi bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Itu semua sebagai bekal dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam kualitas pendidikan, untuk itulah kita harus mengawal hingga kesuksesan para siswa menuju martabat yang sesungguhnya. Kita harus sadar bahwa masa anak-anak yang ada di Sekolah Dasar merupakan bagian dari kita sebagai orang dewasa yang harus mencapai tahap-tahap perkembangan periode yang harus dilalui sesorang. Pada masa ini anak-anak berada pada masa peralihan dari kanak-kanak awal ke masa kanak-kanak akhir sampai menjelang masa pra-pubertas. Pada masa ini pola perkembangan anak-anak sebagai peserta didik dipengaruhi oleh tingkat kematangan usia, teman sebaya dan lingkungan keluarga. Untuk itulah kita sebagai pendidik dan orang tua harus memperhatikan periode perkembangannya baik secara fisik maupun psikologis. Pada usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) anak-anak terlibat dengan dua dunia yaitu dunia bermain dan belajar. Peran seorang guru dan orang tua sangat diperlukan untuk memahami sifat khas yang dimiliki anak didiknya sebagai pribadi yang unik dan masing-masing anak memiliki karakter yang khas pula. Dalam tugas-tugas perkembangan anak Sekolah Dasar meliputi beberapa hal yaitu pembelajaran fisik dengan melakukan kegiatan-kegiatan fisik yang memacu daya kerja otot dan tenaga untuk melakukan suatu aktivitas dengan demikian kegiatan anak pada usia Sekolah Dasar dominan bermain. Pada dasarnya seorang anak merupaka suatu pribadi yang unik yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Pada masa ini anak anak giat mengembangkan ketrampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Daya kreatifitas akan berkembang apabila giat bersosialisasi dengan bergaul berkelompok bersama teman sebayanya. Pendidikan dalam keluarga merupakan kunci dalam memberikan bekal kepada anak untuk makin gemar membaca sebagai solusi terbaik dalam membuka jalan pikiran seorang anak agar mereka mempunyai wawasan yang luas sehingga lebih terasah intektual dan akrab dengan ragam bacaan sebagai pola berkomunikasi. Kondisi keluarga akan menentukan dalam pembentukan minat membaca pada anak dengan memberikan fasilitas dan penyediaan bahan-bahan bacaan yang diharapkan dapat merangsang dan memacu minat baca pada anak. Minat membaca perlu adanya kesiapan dalam belajar, dengan memiliki kecakapan dalam membaca. Keluarga sejatinya memiliki usaha ekstra dalam membantu dan mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama sang anak. Kualitas komunikasi antara kita dengan anak sangat dibutuhkan dalam proses menumbuhkan minat baca pada mereka. Meminta anak untuk bercerita tentang sesuatu yang telah dibacanya atau didengarnya membuat mereka lebih akrab dengan bahasa dan tutur kata. Menamkan sikap selektif dalam memilih buku kepada anak. Dorong pula anak untuk rajin mengunjungi perpustakaan yang bisa mereka akses, baik perpustakaan sekolah maupun perpustakaan umum. Orang tua harus peka dengan minat anak dan memfasilitasinya dengan buku yang sesuai minat mereka supaya minat baca mereka berkembang. Sebagai hobi dalam menumbuhkan minat membaca, tentu kita akan berfikir dimanakah letak buku berada, tentu berada di Perpustakaan, baik itu di Sekolah, di Kelas dengan pojok bacanya maupun perpustakan pribadi di rumah. Mari kita giring anak dengan penguatan untuk mencari literasi yang bersumber di buku perpustakaan. Setiap saat bila bersua dengan para siswa kita bisa bercerita tentang buku, hingga anak tertarik untuk mendengarkan cerita kita dan diusahakan anak akan tertarik unyuk membacanya sendiri dan akhirnya datang ke perpustakaan untuk membacanya. Berdiskusi tentang membaca buku perlu memperkenalkan cara membaca yang baik dengan cara cara membuka dan memegang buku serta bagaimana merawat buku. Membina dan menumbuhkan minat baca dengan cara memperkenalkan buku dengan memamerkan buku di tempat yang strategis, dengan buku yang disukai siswa. Menyediakan buku sesuai dengan tingkatan kelas masing-masing siswa. Menciptakan Perpustakaan Keluarga di rumah yang tidak harus mewah dan lengkap, memberikan kesempatan pada anak-anak sebayanya untuk berkomunikasi sebagai wahana bersosialisasi, koleksi buku yang dimiliki bisa digunakan untuk saling menukar koleksi biar perasaan memiliki dan saling berbagi anatar teman semakin baik. Menonton hiburan baik televisi atau main game bukanlah hobi yang harus dilarang, tapi sebaiknya dibatasi. Supaya waktu anak bisa dialokasikan untuk membaca buku. Orang tua dianjurkan mengendalikan sarana hiburan secara bijak. Jadikan buku sebagai hadiah untuk anak, jadikan membaca sebagai kebiasaan di keluarga, kegiatan membaca setiap hari akan menumbuhkan minat baca anak sekaligus membentuk kebiasaan membaca pada anak sebagai hobi. Peran kita sebagi pendidik dan orang tua adalah menyakinkan bahwa buku sangat bermanfaat untuk dibaca. Pada saat kita membacakan buku kita mencaba untuk mendramatisasi sebuah cerita dibuku, kita amati anak kita saat mendengarkan buku yang kita bacakan, bila anak sudah mulai bosan ubahlah cara baca dengan intonasi yang baik sesuai minat anak, dan tambah dengan gerakan-gerakan tubuh, mimik muka dan intonasi suara hingga anak-anak akan tertarik. Memberikan pengetahuan secara benar saat membaca supaya perasaan nyaman dan akhirnya bahwa membaca itu menyenangkan, baik itu posisi badan dan gerak mata, arah sinar penerangan, jarak antara mata dengan buku, ukuran tempat duduk. Nah dengan demikian sebagai hobi akan tersalurkan dengan maksimal dengan perantara aneka promosi mengenai buku, aneka lomba-lomba membaca, lomba meringkas atau lomba bercerita yang sumbernya dari buku-buku perpustakaan dengan literasi buku terkinikan. Hobi membaca tersalurkan maksimal dengan kita sebagai pendidik dan orang tua mengawal dan mensuport hingga kesuksesan anak-anak.

Sabtu, 30 September 2017

Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Umat berdasar Syariat Islam

Dalam benak kita tentunya memiliki suatu cita cita untuk mewujudkan kemandirian ekonomi umat secara #Syarikatislam, seperti yang kita rasakan sampai kini memang masih jauh dari harapan kita. Perlu tenaga ekstra untuk membangkitkan suatu kemandirian ini dengan tidak mulus langsung jadi, namun menghadapi sejumlah tantangan dan kendala. Lembaga pembiayaan yang berpola #Syarikatislam masih kecil, selebihnya adalah didominasai lembaga keuangan konvensional, maka upaya memandirikan ekonomi umat akan terkendala. Pola konsumsi masyarakat perlu diselaraskan dengan nafas #Syarikatislam, seperti kita sadari di sekitar kita semakin berkembang suatu pola yang serba cepat dan instan, hingga masyarakat makin nyaman membeli barang-barang tempat pusat perbelanjaan modern. Padahal di warung sekitar tempat tinggal juga tersedia berbaai kebutuhan mulai dari yang kecil hingga scala yan besar. Ada perasaan malu dan cenderung gengsi apabila membeli jajanan di pedagang kaki lima. Dimasa sekarang ini berlomba-lomba para produsen yang memproduksi kebutuhan kita sehari hari dengan aneka kemasan yang sangat menarik dan aneka rasa yang tersedia, untuk itu perlu mengedepankan #Syarikatislam dalam langkah kita untuk menyongsong perekonomian yang semakin menglobal. Industri kecil dan rumahan masih mendominasi di masyarakat dengan tata kelola yang minim. yang umumnya produktifitas rendah, sehingga hasil yang diperoleh juga rendah. Untuk itu mari kita mengembangkan industri yang berdasar #Syarikatislam dengan menguatkan kemandirian dalam sistem pengelolaan perekonomiannya. Pada masyarakat masih sering kita dengar adanya ketidakmandirian ekonomi umat secara perekonomian, hal ini bisa kita rasakan diantaranya angka kemiskinan masih melekat di masyarakat. Dampak nyata bila kemiskinan masih berkecamuk di masyarakat adanya daya beli masyarakat yang menurun. Nah untuk itu kita harus senantiasa berbenah mengembangkan diri melalui perekonomian, kita mulai dari dasar hingga kita mampu menguasai pola perekonomian yang sesuai dengan #Syarikatislam sebenarnya. Masyarakat kita tentu juga berfikir akan Sumber Daya Alam kita masih belum terkelola secara mandiri, yang atinya tingkat pengelolaannya masih dikerjakan oleh tenaga asing dan masyarakat hanya sebagai pekerja. Untuk itu perlu strategi matang dengan belajar sistem pengelolaan secara baik hingga kita mampu mengelola Sumber Daya Alam dengan tenaga lokal yang mumpuni, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tidak heran lagi perihal makanan sebagai kebutuhan dasar dari umat yaitu makanan, kebutuhan pangan bagi masyarakat yang semakin tergantung dari import dengan tingkat ketergantungan yang semakin tinggi, pola konsumsi kita juga masih banyak dan bahan dasar makanan juga masih import untuk mencukupi, untuk itu seyoyanya mari kita berbenah untuk swasemaba dalam pangan mulai dari sekarang sehingga perekonomian umat semakin matang. Ada beberapa upaya dalam meningkatkan kemandirian Umat dalam perekonomian diantaranya adalah : 1. Membangun Jiwa Kewirausahaan Sebagai langkah dalam peningkatan kualiatas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam meningkatkan kecakapan umat perlu pengembangan secara berkesinambungan secara #Syarikatislam. Jiwa Kewirausahaan perlu dikedepankan pada umat dengan menggugah jiwa Kewirausahaan pada umat. Dengan hadirnya ASEAN Free Trade Area (AFTA) makin bersaing dengan ketat, persaingan secara globalisasi mulai bergeliat. Kemandirian ekonomi umat dibutuhkan suatu kesungguhan yang kuat dengan mengembanakan jiwa kewirausahaan dan life skill (kecakapan hidup) umat dengan membekalinya dengan berbagai keterampilan, meningkatan kualitas pendidikan, mendorong umat untuk lebih produktif dan kreatif dalam berbagai sektor perekonomian. Melahirkan wirausahawan muda secara #Syarikatislam untuk menguatkan terbangunnya kemandirian ekonomi umat. 2. Mengembangkan sistem ekonomi syariah pada setiap sendi perekononian umat sehingga harapannya mampu menumbuhkan minat dan kesempatan yang sepadan dengan yang lain untuk meningkatkan derajat kesejahteraan umat. Diharapkan dengan sistem ekonomi #Syarikatislam mampu memberikan rasa kebersamaan, kekeluargaan dan akhirnya mampu memberikan kesempatan yang luas pada seluruh masyarakat. Untuk itu perlunya ditekankan untuk memahami seluk beluk #Syarikatislam dalam sendi perekonomian umat. 3. Berusaha secara maksimal untuk menciptakan peluang dalam sendi-sendi perkonomian, hingga tercipta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Dengan menciptakan peluang melalui #Syarikatislam diharapkan pemberdayaan ekonomi akan mengalami pertumbuhan kesejahteraan ekonomi pada masyarakat. Efek yang akan di munculkan akan semakin bermanfaat bagi umat. 4. Mengubah mindset atau pola pikir umat dalam memandang #Syarikatislam dalam upaya membangun kemandirian ekonomi umat. 5. Kita harus menyatukan diri untuk berkomitmen menjadi pengelola sendi-sendi perekonomian berbasis umat hingga menjadi pengusaha andal yang beretika berdasar #Syarikatislam sebagai penggerak ekonomi untuk mewujudkan kemandirian umat. 6. Mengembangkan potensi umat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi berdasar #Syarikatislam, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan berbagai strategi untuk menciptakan ekonomi yang tangguh dan berdaya saing. Langkah yang dikembangkan meliputi pengembangan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan. Kurikulum pada sekolah mampu menjembatani pengembangan potensi umat #Syarikatislam dengan memasukkan pendidikan teknologi informasi dan manajemen, sehingga bekal yang di kuasai selepas menempuh di bangku pendidikan bisa diimplementasikan dengan baik sesuai bidang keilmuannya. #blogcompetition

Senin, 04 September 2017

Lepas sambut dan serah terima guru Bimbingan Konseling di MTsN Tanjunganom

Kab Nganjuk (MTsN Tanjunganom) - Di awal tahun pelajaran 2016-2017 tampak istimewa di MTsN Tanjunanom Nganjuk tepatnya pada Selasa 8 Agustus 2016 telah dilaksanakan acara Lepas Sambut dan serah terima jabatan guru Bimbingan Konseling di MTsN Tanjunganom. Agenda Lepas sambut dan serah terima guru tersebut dilaksanakan di lapangan madrsasah dihapan dewan guru, staf Tata Usaha dan para siswa. Ahmadi selaku Kepala MTsN Tanjunganom memberikan ucapan selamat datang kepada guru Bimbingan Konseling di MTsN Tanjunganom yaitu Eko Endri Wiyono dan Iffa Zulfa, begitu pula diberikan ucapan selamat bertugas ditempat baru kepada Agus Harianta dan Nurul di tempat tugas yang baru yaitu di MTsN Tanjungatani dan MTsN Lengkong. Lebih lanjut Ahmadi mengemukakan semoga dengan tempat yang baru akan ada penyegaran sehingga muncul iklim yang dinamis untuk lebih memajukan madrasah. Acara dimulai pukul 08.00 WIB nampak kidmad dan haru walaupun dilaksanakan secara sederhana dan singkat. Semoga Allah SWT senantiasa menyertai segala rencana dan tugas-tugas di yang baru. Amin. (endry)